TRENDING NOW

Gubernur Hadramaut, Salem al-Khumbashi, melontarkan seruan terbuka kepada para pengusaha Arab Saudi untuk tidak hanya berinvestasi di Kerajaan, tetapi juga memperluas usaha mereka ke Hadramaut. Ajakan ini disampaikan dengan penekanan kuat pada ikatan sejarah dan kekerabatan yang menghubungkan banyak warga Saudi dengan wilayah timur Yaman tersebut.

Dalam pernyataannya, al-Khumbashi menyebut Hadramaut sebagai “tanah asal” bagi banyak keluarga yang kini bermukim dan berbisnis di Arab Saudi. Narasi ini sengaja dibangun untuk menyentuh dimensi emosional sekaligus ekonomi, dengan harapan modal diaspora Hadrami dapat kembali berputar di kampung leluhur mereka.

Hadramaut selama berabad-abad dikenal sebagai wilayah migrasi besar. Ribuan bahkan jutaan orang Hadrami bermukim di Jazirah Arab, Afrika Timur, hingga Asia Tenggara, membangun jaringan dagang yang kuat dan berpengaruh. Pemerintah daerah melihat potensi jaringan ini sebagai kunci kebangkitan ekonomi lokal.

Ajakan tersebut juga mencerminkan upaya otoritas Hadramaut untuk keluar dari stagnasi ekonomi yang berkepanjangan akibat konflik Yaman. Investasi swasta dinilai menjadi salah satu jalan paling realistis untuk menciptakan lapangan kerja dan menstabilkan kehidupan sosial di tengah keterbatasan dukungan negara.

Al-Khumbashi menegaskan pemerintah daerah siap memberikan berbagai kemudahan bagi investor. Ia berjanji akan menyederhanakan perizinan, menghapus hambatan birokrasi, serta memberikan jaminan keamanan bagi proyek-proyek investasi yang masuk ke wilayahnya.

Pernyataan ini datang di saat banyak pengusaha Saudi keturunan Hadrami tengah memperluas portofolio bisnis mereka di sektor energi, properti, dan perdagangan. Hadramaut diposisikan sebagai wilayah yang masih “perawan” dari sisi investasi, dengan potensi besar namun belum tergarap optimal.

Secara geografis, Hadramaut memiliki keunggulan strategis. Wilayah ini membentang luas dengan garis pantai panjang di Laut Arab, sumber daya alam, serta jalur perdagangan yang secara historis menghubungkannya dengan Semenanjung Arab dan Samudra Hindia.

Sektor energi menjadi salah satu daya tarik utama. Hadramaut dikenal memiliki cadangan minyak dan gas, meskipun pemanfaatannya masih terbatas akibat kondisi keamanan dan infrastruktur. Masuknya investor diharapkan mampu meningkatkan produksi sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.

Selain energi, sektor pertanian dan perikanan juga disorot sebagai ladang investasi potensial. Dengan pengelolaan modern dan teknologi tepat guna, sektor-sektor ini dinilai mampu menjadi penopang ekonomi yang berkelanjutan.

Ajakan Gubernur Hadramaut juga dapat dibaca sebagai sinyal politik. Dengan mendekatkan diri pada pengusaha Saudi, otoritas lokal berupaya memperkuat posisi Hadramaut sebagai wilayah yang terbuka, stabil, dan berbeda dari citra konflik yang selama ini melekat pada Yaman.

Di sisi lain, langkah ini juga menunjukkan keterbatasan peran pemerintah pusat Yaman dalam mendorong pembangunan daerah. Inisiatif justru banyak lahir dari tingkat lokal, dengan menggandeng jejaring diaspora dan aktor ekonomi regional.

Para pengamat menilai pendekatan berbasis identitas dan asal-usul ini cukup efektif. Ikatan keluarga dan sejarah sering kali menjadi faktor penentu keputusan investasi, terutama di kawasan Timur Tengah.

Namun tantangan tetap besar. Stabilitas keamanan, kepastian hukum, dan keberlanjutan kebijakan menjadi pertanyaan utama yang akan dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modalnya.

Pemerintah daerah Hadramaut menyadari kekhawatiran tersebut. Karena itu, komitmen untuk “menyingkirkan hambatan” bukan sekadar slogan, melainkan pesan bahwa stabilitas lokal akan dijaga dengan serius.

Seruan ini juga datang di tengah dinamika regional, di mana Arab Saudi semakin aktif memainkan peran ekonomi dan politik di Yaman. Hadramaut berusaha memposisikan diri sebagai mitra ekonomi, bukan sekadar wilayah konflik.

Bagi banyak warga Hadrami di Saudi, ajakan ini memunculkan dilema antara peluang dan risiko. Di satu sisi ada panggilan untuk membangun tanah leluhur, di sisi lain ada realitas ketidakpastian di lapangan.

Meski demikian, beberapa kalangan bisnis menilai waktu ini justru tepat untuk masuk lebih awal. Mereka melihat potensi keuntungan jangka panjang jika stabilitas politik Yaman benar-benar menguat.

Ajakan al-Khumbashi mencerminkan perubahan narasi Hadramaut. Dari wilayah pinggiran konflik, Hadramaut ingin tampil sebagai ruang peluang dan investasi.

Jika seruan ini disambut nyata oleh para pengusaha Saudi, Hadramaut berpotensi menjadi contoh bagaimana diaspora dan investasi regional dapat menjadi motor pemulihan ekonomi Yaman.

Keberhasilan atau kegagalan inisiatif ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan menjaga keamanan. Namun satu hal jelas, Hadramaut kini secara terbuka mengetuk pintu para investor, mengajak mereka pulang, bukan hanya dengan nostalgia, tetapi dengan tawaran ekonomi konkret.

Situasi keamanan di wilayah Hasakah, Suriah Utara, kini berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan menyusul laporan adanya blokade pemukiman Arab oleh milisi SDF. Meskipun perjanjian damai telah ditandatangani, realita di lapangan justru menunjukkan ketegangan yang kian meruncing antara penduduk lokal dan otoritas militer yang berkuasa.

Penangkapan warga sipil secara sewenang-wenang di kompleks-kompleks perumahan telah memicu gelombang protes tersembunyi yang berpotensi meledak menjadi konflik etnis terbuka.

Warga di pemukiman Arab melaporkan bahwa milisi SDF dan strukturnya yang dikendalikan PKK mulai menerapkan pengetatan akses secara mendadak yang memutus rantai pasokan kebutuhan pokok dan layanan medis. Tindakan ini memunculkan kecurigaan besar bahwa ada agenda politik PKK di balik dalih pengamanan wilayah yang selama ini diklaim sebagai bentuk stabilisasi pasca-konflik. 

Kondisi ini menempatkan aparat keamanan pemerintah Suriah dalam posisi yang sangat dilematis antara menjaga komitmen perjanjian atau melindungi keselamatan warga negaranya sendiri.
Aparat keamanan pemerintah yang berada di lokasi saat ini menghadapi tantangan besar untuk membuktikan kehadiran mereka bukan sekadar formalitas administratif di atas kertas. Jika mereka hanya berdiam diri melihat warga ditangkap, maka kewibawaan negara akan runtuh di mata masyarakat lokal yang sangat mengharapkan perlindungan hukum, kecuali memang jika itu yang diinginkan PKK. Di sisi lain, setiap langkah keamanan yang terburu-buru oleh aparat Damaskus berisiko menghancurkan gencatan senjata yang telah dibangun dengan susah payah melalui jalur diplomasi internasional.

Banyak analis menilai bahwa membiarkan struktur SDF menangani urusan keamanan internal pemukiman Arab tanpa pengawasan ketat adalah sebuah kesalahan strategis yang fatal bagi kedaulatan negara. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kepentingan dan ideologi yang sangat tajam antara milisi yang didominasi unsur tertentu dengan warga Arab yang memiliki akar sejarah kuat di wilayah tersebut.

Ketidakadilan dalam proses penegakan hukum di lapangan akan selalu menjadi api dalam sekam yang siap membakar struktur sosial yang sudah rapuh.

Himbauan agar SDF tidak bertindak sembarangan dalam melakukan penangkapan sebenarnya telah sering dilontarkan melalui berbagai saluran komunikasi resmi. Namun, fakta bahwa blokade tetap berlangsung menunjukkan bahwa teguran lisan tidak lagi memiliki taring yang cukup kuat untuk mengubah perilaku di lapangan. Dibutuhkan kehadiran tim pemantau yang lebih independen dan berwibawa untuk memastikan bahwa setiap tindakan pengamanan benar-benar didasarkan pada bukti kriminalitas yang valid.

Kekecewaan warga Arab di Hasakah kini mulai berubah menjadi narasi sarkasme yang menyakitkan bagi martabat nasional dan integritas wilayah. Mereka mulai mempertanyakan apakah kehadiran personel keamanan pemerintah dalam jumlah kecil di wilayah tersebut benar-benar diniatkan untuk menjaga kedaulatan atau untuk menyerahkan Hasakah ke SDF?. Muncul anggapan sinis di tengah masyarakat bahwa kehadiran aparat pemerintah justru berfungsi sebagai penjamin kelancaran penyerahan wilayah tersebut kepada kontrol penuh SDF secara perlahan.

Kecurigaan ini diperparah oleh sikap pasif yang ditunjukkan oleh beberapa unit keamanan saat terjadi penggeledahan rumah-rumah warga sipil oleh milisi setempat. Warga merasa seolah-olah negara telah memberikan lampu hijau bagi kelompok milisi untuk bertindak sebagai penguasa absolut tanpa ada mekanisme kontrol yang jelas, padahal itu semua adalah imbas dari perjanjian damai yang multi interpretasi.

Rasa tidak percaya ini menyebar dengan cepat melalui percakapan di pasar-pasar dan ruang pertemuan keluarga, menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara rakyat dan negara.

Dampak dari krisis kepercayaan ini sangat terasa pada efektivitas perjanjian damai yang seharusnya membawa ketenangan bagi semua pihak yang bertikai. Warga Arab mulai menganggap dokumen perdamaian tersebut tak lebih dari sekadar instrumen politik yang menguntungkan satu pihak sambil mengorbankan hak-hak kelompok lain. Tanpa adanya tindakan nyata untuk menghentikan intimidasi, perjanjian damai hanya akan dianggap sebagai topeng untuk melegitimasi pendudukan baru yang tidak diinginkan masyarakat.

Secara taktis, keamanan Suriah memang berada dalam posisi yang terkunci karena keterbatasan jumlah personel di zona-zona sensitif yang didominasi oleh SDF, selain tekanan dari luar di belakang layar.

Namun, ketidakmampuan untuk melakukan intervensi fisik seharusnya bisa dikompensasi dengan tekanan diplomatik dan penggalangan opini internasional yang lebih masif. Negara harus menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kepedulian terhadap nasib warga di wilayah yang secara administratif masih menjadi bagian integral dari kedaulatan mereka.

Keadaan menjadi semakin rumit ketika tokoh-tokoh adat dan pimpinan suku di Hasakah mulai merasa ditinggalkan dalam proses pengambilan keputusan keamanan. Suku-suku Arab yang secara historis setia kepada pemerintah pusat kini merasa tidak memiliki sandaran saat menghadapi tekanan dari milisi bersenjata. Jika hubungan emosional ini terputus, maka pemerintah akan kehilangan sekutu paling berharga di wilayah timur laut Suriah yang sangat strategis ini.

Pemerintah pusat perlu menyadari bahwa membiarkan persepsi "penyerahan Hasakah" terus berkembang akan menjadi bom waktu bagi stabilitas nasional di masa depan. Narasi sarkasme yang muncul di media sosial dan ruang publik adalah sinyal darurat bahwa ada luka sosial yang sedang menganga dan butuh segera diobati. Tidak ada perdamaian yang bisa bertahan lama jika salah satu pihak merasa terus-menerus ditindas di bawah bayang-bayang senjata tanpa pembelaan.

Langkah untuk memulihkan kepercayaan harus dimulai dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan retoris yang tidak menyentuh akar permasalahan di lapangan. Keamanan Suriah harus mendesak dibentuknya komite penyelidikan bersama yang melibatkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, dan perwakilan milisi untuk meninjau status para tahanan. Transparansi dalam proses hukum adalah satu-satunya cara untuk membungkam spekulasi liar mengenai adanya pengkhianatan terhadap kedaulatan wilayah.

Blokade terhadap pemukiman sipil juga harus dilihat sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang serius yang tidak bisa ditoleransi dengan alasan stabilitas keamanan. Memutus akses warga terhadap logistik dan mobilitas harian adalah bentuk hukuman kolektif yang justru akan menciptakan militansi baru di kalangan generasi muda Arab. Hal ini justru akan memberikan ruang bagi kelompok-kelompok radikal lainnya untuk masuk dan menawarkan perlindungan semu di tengah kekosongan peran negara.

Para pemimpin militer di Damaskus perlu mengevaluasi kembali strategi kehadiran mereka di wilayah Hasakah agar tidak lagi dipersepsikan sebagai pendukung diam-diam bagi SDF. Penempatan personel keamanan harus didasarkan pada misi perlindungan warga sipil yang aktif dan terlihat nyata oleh mata publik setempat.

Jika hal ini tidak segera dilakukan, maka kehadiran militer di sana hanya akan menambah beban psikologis bagi warga yang sudah merasa sangat tertekan.

Koordinasi dengan pihak ketiga, seperti mediator internasional, harus ditingkatkan untuk memberikan tekanan yang lebih efektif bagi kelompok milisi yang melanggar kesepakatan. Tekanan ekonomi dan politik terhadap struktur kepemimpinan SDF bisa menjadi alternatif jika intervensi militer langsung dianggap terlalu berisiko. Setiap tindakan penangkapan harus memiliki standar prosedur yang jelas dan dapat dipantau oleh keluarga serta lembaga hukum yang berwenang.

Masa depan Hasakah sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mampu menyeimbangkan antara kepentingan politik luar negeri dan tanggung jawab domestik terhadap rakyatnya. Kegagalan dalam mengelola krisis di kompleks pemukiman Arab ini akan menjadi preseden buruk bagi wilayah-wilayah lain yang juga berada di bawah skema perdamaian serupa. Rakyat membutuhkan bukti bahwa kedaulatan negara bukan hanya soal bendera yang berkibar, tetapi tentang rasa aman yang dirasakan di rumah masing-masing.

Sentimen negatif yang berkembang saat ini harus segera direspon dengan dialog terbuka yang melibatkan para kepala suku yang paling berpengaruh di Hasakah, khususnya suku-suku yang pernah bergabung dengan SDF dan kini memihak pemerintah.

Mendengarkan keluhan mereka secara langsung dapat memberikan perspektif yang lebih akurat dibandingkan hanya menerima laporan formal dari meja birokrasi. Hal ini juga berfungsi untuk meredam kemarahan massa yang mulai merasa tidak memiliki lagi tempat untuk mengadu atas ketidakadilan yang mereka alami.

Pada akhirnya, stabilitas di Suriah Utara tidak akan pernah tercapai selama masih ada tembok blokade yang memisahkan antara warga dan hak-hak dasar mereka sebagai manusia. Perjanjian damai yang sejati harus mampu menghadirkan keadilan bagi semua tanpa memandang latar belakang etnis atau afiliasi kelompok tertentu. Keamanan Suriah memikul beban sejarah untuk memastikan bahwa Hasakah tidak jatuh ke dalam jurang konflik etnis yang akan menghancurkan masa depan wilayah tersebut.

Warga Arab di Hasakah kini hanya bisa menunggu dan melihat apakah suara mereka akan didengar atau kembali hilang di balik deru mesin perang dan kepentingan politik tingkat tinggi. Mereka tetap memegang harapan tipis bahwa negara akan hadir sebagai pelindung yang sesungguhnya di saat-saat paling sulit dalam hidup mereka. Harapan inilah yang harus dijaga oleh setiap personel keamanan yang ditugaskan di wilayah perbatasan yang penuh dengan gejolak dan ketidakpastian tersebut.

Dengan segala kerumitan yang ada, langkah selanjutnya yang diambil oleh pihak keamanan akan menentukan arah sejarah Hasakah untuk beberapa dekade ke depan. Apakah wilayah ini akan menjadi model rekonsiliasi yang berhasil atau justru menjadi contoh kegagalan yang berujung pada perpecahan yang lebih dalam lagi sebagaimana terjadi di Suwaida dengan milisi Al Hajri pro Israel yang membantai dan mengusir Arab Badui. Semua mata kini tertuju pada Hasakah, menanti sebuah kepastian yang bisa mengembalikan kedamaian di pemukiman yang kini tercekik oleh blokade dan kecurigaan.



Sebuah fragmen sejarah kuno yang jarang dibahas kembali mencuat melalui catatan Eropa awal modern yang merekam kisah ekspedisi lintas samudra dari Afrika Timur menuju Asia Selatan dan Asia Tenggara. Teks tersebut menggambarkan sebuah rencana invasi besar yang oleh sebagian sejarawan disebut sebagai “perang antar benua” pada awal milenium pertama Masehi.

Catatan itu menyebut keterlibatan dua pusat kekuatan maritim Afrika Timur, yakni kawasan Mogadishu dan pesisir Adal yang berpusat di Zeila. Dari wilayah ini, armada besar dikatakan dihimpun dengan tujuan menyeberangi Samudra Hindia menuju pulau-pulau kaya di seberangnya.

Jumlah pasukan yang dikumpulkan tidak kecil untuk ukuran zamannya. Sumber tersebut menyebut sekitar 25 hingga 26 ribu orang ikut serta dalam armada, sebuah angka yang menunjukkan tingkat organisasi politik dan kemampuan logistik yang tinggi.

Target utama ekspedisi ini adalah pulau Taprobane, nama kuno yang sering dikaitkan dengan Sri Lanka, serta Sumatra (di Barus ada cerita rakyat mengenai invasi dari Afrika) yang sejak awal dikenal sebagai simpul perdagangan strategis di jalur India–Cina. Kedua wilayah itu dipandang sebagai pusat kekayaan dan pengaruh di Samudra Hindia.

Rencana invasi bersama ini menunjukkan bahwa hubungan Afrika Timur dengan Asia bukan sekadar perdagangan damai, tetapi juga mencakup ambisi militer dan politik lintas benua. Samudra Hindia pada masa itu bukan penghalang, melainkan penghubung dunia.

Namun, ambisi besar tersebut berakhir di luar rencana. Catatan itu menyebut sebuah badai besar menghantam armada di tengah pelayaran, memaksa kapal-kapal keluar jalur dan kehilangan orientasi.

Alih-alih mencapai Sri Lanka atau Sumatra, armada tersebut justru terdampar jauh di barat daya, di pesisir sebuah pulau besar yang kini dikenal sebagai Madagaskar. Peristiwa ini mengubah arah sejarah ekspedisi tersebut secara drastis.
Para penumpang armada dikisahkan menetap di pulau itu selama berbulan-bulan. Dalam rentang waktu tersebut, mereka membangun penanda dan meninggalkan jejak simbolik yang menunjukkan identitas dan asal-usul mereka.

Sumber Eropa mencatat bahwa mereka mendirikan pilar-pilar batu di beberapa titik pulau dan mengukir tulisan yang disebut sebagai aksara Chaldean. Di antara ukiran itu tercantum nama “Magadoxo”, yang kemudian dianggap sebagai bentuk awal dari nama Madagascar.

Kisah ini menjadi salah satu dasar teori tentang keterlibatan Afrika Timur dalam pembentukan awal peradaban di Madagaskar. Pulau itu memang dikenal sebagai titik temu unsur Afrika dan Asia dalam bahasa, budaya, dan genetika.

Judul teks yang menyertai kutipan tersebut bahkan secara eksplisit menyebut Sakalava dan asal-usul imperium Malagasi awal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa pendaratan armada besar ini meninggalkan dampak politik jangka panjang.

Jika benar terjadi pada abad ke-9 atau ke-10, maka ekspedisi ini berlangsung pada masa keemasan jaringan dagang Samudra Hindia. Mogadishu dan Adal saat itu merupakan pelabuhan aktif yang terhubung dengan Arab, India, dan Asia Tenggara.

Sri Lanka dan Sumatra sendiri dikenal sebagai simpul penting dalam jalur rempah dan perdagangan internasional. Menguasai wilayah tersebut berarti menguasai arus ekonomi lintas benua.

Badai yang menggagalkan ekspedisi ini menjadi faktor alam yang menentukan jalannya sejarah. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa rapuhnya ambisi politik manusia di hadapan kekuatan samudra.

Meski gagal mencapai target utama, pendaratan di Madagaskar justru membuka bab baru dalam sejarah kawasan tersebut. Migrasi tak terencana ini mengubah komposisi penduduk dan struktur kekuasaan lokal.

Dalam konteks lebih luas, kisah ini memperlihatkan bahwa konflik dan ekspansi militer lintas benua bukanlah fenomena modern. Dunia abad pertengahan awal telah mengenal mobilisasi manusia dalam skala besar antar kawasan yang berjauhan.

Narasi ini juga menantang pandangan lama yang memisahkan sejarah Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara secara kaku. Samudra Hindia menjadi ruang interaksi bersama yang dinamis dan sering kali keras.

Para sejarawan modern masih memperdebatkan detail kronologi dan keakuratan sumber-sumber Eropa tersebut. Namun, kesesuaian kisah ini dengan pola migrasi dan temuan linguistik memberi bobot tersendiri.

Bagi Indonesia, khususnya Sumatra, kisah ini menempatkan pulau tersebut dalam konteks geopolitik global sejak awal. Sumatra bukan wilayah pinggiran, melainkan sasaran utama ambisi kekuatan asing sejak berabad-abad lalu.

Bagi Sri Lanka, rencana invasi ini menegaskan posisi strategisnya sebagai titik kunci Samudra Hindia. Pulau itu telah lama berada dalam radar kekuatan maritim lintas kawasan.

Sementara itu, Madagaskar muncul sebagai panggung tak terduga dari sebuah perang antar benua yang gagal. Dari sebuah kesalahan navigasi, lahir bab baru sejarah yang menghubungkan Afrika, Asia, dan samudra di antaranya.