Articles by "pesantren"
Showing posts with label pesantren. Show all posts
Bahasa Arab merupakan salah satu warisan penting yang diperoleh para santri selama menimba ilmu di pesantren. Bahasa ini bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga jembatan untuk memahami sumber-sumber utama ajaran Islam seperti Al-Qur'an dan hadis. Sayangnya, tak sedikit alumni pesantren yang seiring waktu melupakan kemahiran bahasa Arabnya karena tidak lagi terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya menjaga kemampuan berbahasa Arab, para alumni pesantren perlu memiliki strategi khusus agar tetap fasih. Salah satu kiat yang bisa diterapkan adalah dengan membuat blog pribadi berbahasa Arab. Melalui tulisan-tulisan dalam bahasa Arab, alumni dapat terus melatih struktur kalimat, memperluas perbendaharaan kosakata, dan menjaga kedekatan emosional dengan bahasa ini.

Selain blog, penggunaan media sosial berbahasa Arab juga menjadi sarana efektif. Alumni bisa mengatur akun Instagram, X (Twitter), atau Facebook-nya untuk mengunggah konten, caption, atau bahkan status harian dalam bahasa Arab. Dengan begitu, latihan bahasa pun menjadi bagian dari rutinitas digital yang menyenangkan.

Tak kalah penting, membentuk komunitas kecil alumni yang sepakat menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari juga terbukti sangat membantu. Grup WhatsApp atau Telegram khusus alumni dengan aturan “Arab Only” bisa menjadi ruang latihan yang santai namun konsisten. Interaksi melalui pesan singkat akan membiasakan kembali struktur dan ungkapan bahasa Arab yang sering terlupakan.

Selain bercakap atau menulis, membaca berita atau artikel dalam bahasa Arab secara rutin juga menjadi latihan yang sangat bermanfaat. Banyak portal berita Timur Tengah seperti Al-Jazeera Arabic atau Al-Arabiya yang bisa dijadikan sumber bacaan harian. Analisis terhadap struktur kalimat dan kosa kata baru akan memperkuat pemahaman dan menjaga kemampuan membaca teks Arab secara aktif.

Mendengarkan podcast atau menonton video berbahasa Arab juga bisa menjadi metode pembelajaran yang tidak membosankan. Kini tersedia banyak kanal YouTube atau platform podcast Islami berbahasa Arab yang membahas topik agama, sosial, atau bahkan hiburan. Ini bisa menjadi alternatif bagi alumni yang sibuk namun tetap ingin melatih kemampuan listening.

Mengikuti kelas online bahasa Arab secara berkala pun patut dipertimbangkan. Meskipun sudah pernah belajar di pesantren, mengikuti kembali pembelajaran dalam format baru dapat menjadi penyegar memori sekaligus memperdalam pemahaman. Banyak platform belajar daring yang menyediakan kelas bahasa Arab gratis maupun berbayar dengan pengajar dari Timur Tengah.

Menulis catatan harian atau jurnal pribadi dalam bahasa Arab bisa menjadi cara sederhana namun efektif untuk menjaga kemampuan menulis. Walaupun hanya satu atau dua paragraf per hari, kebiasaan ini bisa melatih kemampuan ekspresi dan memperkuat memori terhadap struktur kalimat.

Mengadakan pertemuan rutin secara daring atau luring dengan sesama alumni pesantren juga dapat menjadi wadah praktik bahasa Arab secara langsung. Dalam forum semacam ini, peserta dapat berlatih berbicara, mendengarkan, dan berdiskusi dalam bahasa Arab, sekaligus mempererat silaturahmi antar alumni.

Jika memungkinkan, menjadi relawan pengajar bahasa Arab di lembaga pendidikan atau bimbingan belajar juga menjadi sarana menjaga dan menyalurkan ilmu. Dengan mengajar, seorang alumni akan dipaksa untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan mempertahankan kefasihannya.

Mengikuti lomba-lomba bahasa Arab seperti pidato, debat, atau musabaqah tingkat nasional juga dapat menjadi motivasi tersendiri. Persiapan untuk mengikuti kompetisi semacam ini biasanya membutuhkan latihan intensif yang bisa mengasah semua keterampilan berbahasa.

Berlangganan majalah atau jurnal ilmiah dalam bahasa Arab juga merupakan langkah cerdas. Dengan membaca tulisan-tulisan ilmiah, alumni akan terbiasa dengan kosakata yang lebih formal dan struktur kalimat yang kompleks.

Membuat konten YouTube berbahasa Arab seperti vlog harian, kultum, atau bahkan tutorial bisa menjadi kombinasi antara berdakwah dan melatih kemampuan bahasa. Ini juga memberikan peluang untuk menjangkau audiens dari berbagai negara Arab.

Berinteraksi dengan penutur asli bahasa Arab melalui aplikasi pertukaran bahasa juga bisa menjadi pengalaman berharga. Dengan berbicara langsung dengan mereka, alumni dapat melatih pronunciation, memperkaya idiom, dan memperluas wawasan budaya.

Menghafal kosakata baru setiap hari dan menempelkannya di tempat-tempat yang mudah terlihat seperti meja belajar atau cermin kamar bisa membantu memperkuat daya ingat. Metode ini sederhana namun terbukti efektif dalam meningkatkan penguasaan bahasa.

Jika memungkinkan, melakukan perjalanan ke negara-negara Arab untuk umrah, studi, atau kunjungan budaya juga menjadi kesempatan langka untuk membenamkan diri dalam lingkungan berbahasa Arab secara langsung.

Menjaga niat dan motivasi juga penting. Alumni harus selalu mengingat bahwa bahasa Arab bukan hanya keterampilan, tetapi juga bentuk kecintaan terhadap ilmu dan bagian dari identitas sebagai santri.

Menjadikan bahasa Arab sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, seperti menggunakan ucapan-ucapan Arab dalam keseharian, membaca doa-doa dengan pemahaman, dan mempraktikkan percakapan ringan bisa membangun suasana yang mendukung.

Pada akhirnya, mempertahankan kemampuan bahasa Arab bagi alumni pesantren bukan sekadar perkara teknis, tetapi juga bentuk syukur atas ilmu yang pernah diperoleh. Bahasa adalah seperti pedang: jika tidak diasah, ia akan tumpul.

Dengan kreativitas, komitmen, dan dukungan dari lingkungan, alumni pesantren dapat terus menjaga dan mengembangkan kemampuan bahasa Arab mereka. Sebab, bahasa Arab adalah pintu menuju pemahaman agama yang lebih dalam, serta jembatan menuju peradaban Islam yang agung.


Nuris Student Exchange Programme (NSEP) atau pertukaran pelajar Nuris dengan lembaga di luar negeri tahun ini terus berlanjut. Setelah memberangkatkan 19 santri ke Malaysia, Thailand, dan Singapura akhir bulan lalu, kini 5 santri Nuris bersiap-siap untuk belajar dan mengajar di negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir.

Kelima orang tersebut berasal dari MA Unggulan Nuris. Mereka adalah Ahmad Fauzan, M. Kavin Robbani (kelas XI PK A)  Abdul Aziz (kelas XI PK B),  Ihza Wahyu F. (kelas XI IPA)  dan M. Hasan Ulil Absor (kelas X PK A). Mereka terpilih sebagai peserta NSEP melalui seleksi internal yang sangat ketat.  Selain cerdas dan cakap, mereka juga harus mengikuti seleksi khusus.

“Yang pasti, mereka harus fasih berbahasa Arab dan Inggris. Itu wajib. Bahkan calon peserta masih harus mengikuti pembinaan  bahasa Arab logat Mesir atau yang dikenal dengan istilah bahasa ‘amiyah,” ucap Kepala Humas Yayasan Nurul Islam (Nuris) Jember, Gus Abdurrahman Fathoni di Nuris kepada NU Online, Kamis (9/2).

Pembinaan bahasa Arab khas Mesir dilakukan 3 kali dalam seminggu di bawah bimbingan Kiai Ahmad Fauzan, seorang kiai yang cukup lama bermukim di Mesir. Menurut Gus Abdurrahman, sebelum berangkat ke Arab Saudi dan Mesir, kelima sanrri tersebut terus diberi pembekalan, khusunya di sisi logat bahasa dan adat  istiadat Meser.

Dikatakannya, cukup sulit belajar bahasa Arab ‘amiyah. Sebab, bahasa tersebut tak seperti bahasa Arab yang standar. Banyak huruf yang berubah seperti kata ‘tsalatsa’ dalam bahasa Arab standar menjadi ‘talata’ dalam bahasa Mesir. ”Akhirnya mereka didorong untuk terus mencari tahu dan mendengarkan logat bahasa Arab  khas Mesir,” lanjutnya.

Abdul Aziz, mengaku gembira terpilih sebagai peserta NSEP. Menurutnya, hal terebut sangat berguna tidak saja bagi peningkaran wawasan keilmuan yang langsung dari pusat peradaban Islam, tapi juga berguna untuk memahami tipologi politik rakyat kedua negara tersebut.

“Kalau Arab Saudi relatif aman. Tapi Mesir dan negara sekitarnya, sangat rawan terjadi konflik horisontal, itu kenapa? Padahal muslimnya mayoritas. Syukurlah Indonesia aman meskipun terdapat beragam agama, suku dan budaya,” ungkapnya. (sumber)
Berkat motivasi dan doa guru, Iqbal Nurudin, santri Pondok Pesantren (PP) An-Nawawi Berjan Kabupaten Purworejo berhasil meraih juara nasional pada Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) tahun 2016 yang digelar di Serang Banten. Iqbal menempati posisi kedua pada lomba pindato berbahasa Arab.

“Sejak masuk pesantren ini, saya langsung aktif  mengikuti kegiatan ekstra muchadloroh bahasa asing khususnya bahasa Arab,” kata Iqbal, Kamis (3/11).

Dalam menghadapi Pospenas, Iqbal yang sudah lima tahun menjadi santri di Pesantren Asuhan Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi ini, mengaku tidak ada persiapan khusus. Tapi persiapan yang sesungguhnya sudah lakukan sejak lima tahun lalu saat memasuki pesantren ini. “Prestasi yang saya raih ini bukan instan. Dan kejuaraan ini bukan satu-satunya tujuan saya,” tandasnya.

Diakui pula, saat mengikuti lomba yang sama tingkat Provinsi Jawa Tengah, pengumuman yang menyatakan dirinya lolos maju tingkat nasional mewakili Jawa Tengah juga sangat mepet. “Saya hanya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk menyusun naskah dan melakukan latihan serta pendalaman materi, untuk menghadapi peserta lain dari seluruh Indonesia,” katanya yang dalam loba seni pidato nasional menyuguhkan tema Tantangan Santri Menghadapi era Globalisasi. (krjogja.com)
Karya tafsir Kiai Bisri Musthofa (1915-1977) ini berjudul lengkap al-Ibriz Li Ma'rifah Tafsir al-Qur'an al-Aziz dan lebih dikenal dengan al-Ibriz. Sebelum disebarluaskan kepada khalayak ramai, karya tafsir ini terlebih dahulu diteliti oleh beberapa ulama terkenal, seperti KH. Arwani Amin, KH.  Abu Umar, KH. Hisyam, dan KH. Sya'roni Ahmadi. Semuanya ulama kenamaan asal Kudus Jawa Tengah.

Pada edisi yang lebih umum (terbitan awal oleh penerbit Menara Kudus), tafsir ini bertuliskan huruf pegon berbahasa jawa pada arti dan ulasan tafsirnya, layaknya kitab kuning pada umumnya. Tentu tidak semua orang bisa membaca, hanya orang-orang yang memiliki keahlian membaca aksara pegon saja yang mudah memahami kitab ini, biasanya dari kalangan pesantren atau orang yang pernah mengaji kitab kuning. Sedangkan Al Ibriz versi latin ini adalah kitab generasi kedua, dalam artian terjemah dan tafsirnya tidak lagi menggunakan huruf pegon arab berbahasa jawa, tetapi sudah dialih tulisankan kedalam aksara/ tulisan latin untuk terjemah dan ulasan tafsirnya. Namun kitab generasi kedua ini tetap menggunakan bahasa jawa dalam terjemah dan ulasan tafsirnya, dengan tujuan tidak menghilangkan ke-khasan kitab jawanya. Jadi kitab generasi kedua dengan penerbit Wonosobo Jawa Tengah ini in sya Alloh akan lebih mudah dibaca, difahami, serta diamalkan.

More

Dengan bertebarnya software terjemahan Al Quran ke bahasa Indonesia sekarang ini, menerjemahkan Al Quran ke bahasa daerah semakin mudah.

Salah satu contoh sofwarenya klik di sini, selain itu terjemahan kitab-kitab hadits juga tersedia online ke bahasa Indonesia klik di sini. Penerjemah massal lihat di sini

Jadi tunggu apalagi?? mari terjemahkan Al Quran ke bahasa daerah.
One night in Baghdad, the 9th century Caliph Al-Mamun was visited by a dream. The philosopher Aristotle appeared to him, saying that the reason of the Greeks and the revelation of Islam were not opposed. On waking, the Caliph demanded that all of Aristotle’s works be translated into Arabic, and they were.

Over the next 200 years (about 800 A.D. to 1150 A.D.) major works in philosophy, medicine, engineering and mathematics in Greek, Syriac, Sanskrit, Pahlavi and other languages were translated into Arabic. This endeavour became known as the 'translation movement'.

More
Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2009 yang akan diikuti oleh 5.923 santri dari seluruh Indonesia akan digelar di bumi perkemahan Letjen Mashudi Sumedang, Jawa Barat 15-20 Juni 2009.

Hal itu dikemukakan Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Mohammad Ali dalam keterangan pers kegiatan tersebut di Dep.Agama, Jumat (11/6/2009).

Menurut Mohammad Ali, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para santri dalam mendorong dan menumbuhkembangkan kesadaran bela negara,menolong sesama dan ikut serta membangun masyarakat."Kita berharap kegiatan ini dapat menggalang persaudaraan, menambah pengalaman, pengetahuan, ketrampilan dan meningkatkan pengabdian masyarakat," ujarnya.
Proyek pertama humpunan ini adalh menerjemahkan Al Quran ke berbagai bahasa daerah. Walau teman-teman lulusan sastra Arab belum termasuk kapable dalam penerjemahan Al Quran yang membutuhkan kemampuan multidisipliner, akan tetapi penerjemahan kasar akan sangat membantu para ahli bahasa daerah dan ahli tafsir untuk memperbaiki dan melengkapinya. Lihat di sini proyeknya.