Pemerintah Yaman melalui maskapai nasional kembali mengumumkan kabar pemulihan penerbangan sipil di sejumlah wilayah. Yemenia Airlines menyatakan akan melanjutkan operasi ke Bandara Seiyun di Hadramaut pekan ini, dengan koneksi penerbangan domestik menuju rute internasional ke Kairo dan Jeddah. Langkah ini dipandang sebagai sinyal awal normalisasi sektor transportasi udara di wilayah timur Yaman.

Selain Seiyun, operasi ke Bandara Al-Ghaida di Provinsi Al-Mahra juga dijadwalkan kembali dibuka mulai pekan depan. Bandara tersebut akan terhubung dengan rute ke Socotra, sekaligus membuka penerbangan langsung antara Socotra dan Jeddah. Bahkan, penerbangan internasional dari Bandara Mokha yang baru dibangun ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah direncanakan mulai beroperasi pada Februari mendatang.

Namun di tengah kabar positif tersebut, muncul pertanyaan publik terkait belum dibukanya penerbangan ke Bandara Rayyan di Mukalla, Bandara Shabwa, serta Bandara Marib. Ketiga bandara ini dinilai memiliki posisi strategis, baik secara ekonomi maupun politik, bagi kawasan timur dan tengah Yaman.

Sumber-sumber perhubungan udara menyebutkan bahwa faktor keamanan menjadi alasan utama keterlambatan pembukaan Bandara Rayyan di Mukalla. Meski Hadramaut secara umum relatif stabil, status dan pengelolaan keamanan bandara tersebut masih belum sepenuhnya berada di bawah otoritas sipil yang diakui pemerintah pusat.

Bandara Rayyan selama bertahun-tahun disebut mengalami pembatasan operasional akibat dinamika militer dan kepentingan keamanan regional. Infrastruktur fisik bandara dinilai memadai, namun kendali dan jaminan keselamatan penerbangan internasional belum memperoleh persetujuan penuh dari otoritas penerbangan sipil nasional.

Sementara itu, Bandara Shabwa menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Provinsi ini baru saja melewati fase transisi keamanan dan politik, menyusul perubahan kekuatan di lapangan dan proses konsolidasi pemerintahan daerah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesiapan bandara untuk melayani penerbangan komersial.

Selain faktor keamanan, aspek teknis juga menjadi penghambat utama di Shabwa. Fasilitas navigasi, sistem komunikasi, serta kesiapan layanan darurat bandara dilaporkan belum memenuhi standar internasional yang disyaratkan untuk pembukaan rute reguler.

Adapun Bandara Marib menghadapi tantangan yang berbeda. Wilayah Marib hingga kini masih berada di dekat garis konflik aktif, sehingga risiko terhadap keselamatan penerbangan sipil dinilai tinggi. Otoritas penerbangan enggan mengambil langkah yang dapat membahayakan penumpang dan kru.

Marib juga memiliki sensitivitas politik dan militer yang besar. Keberadaan fasilitas strategis di sekitar bandara membuat pengoperasian penerbangan sipil memerlukan koordinasi keamanan tingkat tinggi yang hingga kini belum sepenuhnya tercapai.

Kondisi ini berbeda dengan Al-Mahra dan Socotra yang relatif jauh dari pusat konflik bersenjata. Stabilitas keamanan di dua wilayah tersebut memungkinkan pemerintah dan maskapai nasional untuk lebih cepat memulihkan konektivitas udara.

Pembukaan Bandara Badoun di Hadramaut dinilai sebagai solusi sementara untuk melayani kebutuhan mobilitas warga Mukalla dan sekitarnya. Bandara ini diposisikan sebagai alternatif sipil dengan pengawasan otoritas penerbangan yang lebih jelas.

Pemerintah Yaman menyatakan bahwa pembukaan bandara-bandara lain akan dilakukan secara bertahap. Setiap bandara harus memenuhi tiga syarat utama, yakni keamanan, kesiapan teknis, dan pengakuan administratif dari lembaga penerbangan sipil nasional serta internasional.

Para analis menilai kebijakan ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam memulihkan sektor transportasi udara. Kesalahan dalam pengelolaan satu bandara saja dapat berdampak besar pada reputasi keselamatan penerbangan Yaman di mata internasional.

Di sisi lain, masyarakat di Mukalla, Shabwa, dan Marib terus mendesak agar bandara mereka dibuka. Mereka menilai akses udara sangat penting untuk aktivitas ekonomi, layanan kesehatan, dan perjalanan ibadah ke luar negeri.

Khusus untuk Mukalla, tekanan publik semakin kuat mengingat Hadramaut merupakan salah satu wilayah dengan populasi besar dan kontribusi ekonomi signifikan. Ketergantungan pada bandara alternatif dinilai tidak efisien dalam jangka panjang.

Meski demikian, otoritas penerbangan menegaskan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Pembukaan bandara tanpa jaminan keamanan dan standar teknis yang memadai dianggap berisiko tinggi.

Dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Bandara Rayyan, Shabwa, dan Marib. Evaluasi ini melibatkan aspek keamanan, infrastruktur, serta kesiapan sumber daya manusia.

Jika kondisi dinilai membaik, bukan tidak mungkin penerbangan ke tiga bandara tersebut akan dibuka secara terbatas terlebih dahulu. Skema penerbangan domestik kemungkinan menjadi tahap awal sebelum rute internasional diizinkan.

Untuk saat ini, fokus pemerintah adalah memastikan kelancaran rute yang sudah diumumkan, termasuk Seiyun, Al-Ghaida, Socotra, dan Mokha. Keberhasilan rute-rute ini akan menjadi tolok ukur bagi pembukaan bandara lain.

Dengan situasi politik dan keamanan Yaman yang masih dinamis, pemulihan penerbangan sipil diperkirakan akan berjalan bertahap. Publik diminta bersabar, sementara pemerintah berupaya menyeimbangkan kebutuhan mobilitas dengan tuntutan keselamatan dan stabilitas nasional.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post
Axact

Kata Imam Syafii RA

“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … .

Post A Comment:

0 comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.