Keputusan STC (Southern Transitional Council) untuk membubarkan diri memicu dinamika politik baru di Yaman, khususnya terkait penguasaan aset negara. Langkah ini menandai babak baru bagi pemerintahan pusat dalam mengembalikan kontrol atas sumber daya dan fasilitas strategis yang sebelumnya dikuasai STC.

Himbauan resmi mulai bermunculan dari berbagai pihak untuk segera mengambil alih aset negara yang selama ini berada di tangan STC. Fokus utama adalah aset BUMN, lembaga pemerintah, dan fasilitas publik yang sempat dialihkan oleh STC.

Tidak hanya aset publik, perhatian juga tertuju pada aset BUMN milik Al Saba, yang selama lima tahun terakhir dikuasai secara paksa oleh STC di wilayah Aden. Pengambilalihan kembali diharapkan dapat memperkuat fungsi negara dan mengembalikan pelayanan publik.

Bagi banyak pihak, keputusan STC membubarkan diri membawa rasa lega. Langkah ini dinilai dapat meredakan ketegangan politik yang berkepanjangan dan membuka jalan bagi konsolidasi pemerintahan pusat di wilayah selatan.

Namun, tidak semua pihak menyambut positif. Beberapa sempalan STC menilai pembubaran seharusnya dilakukan melalui rapat besar para pendiri dan bukan keputusan unilateral. Perselisihan internal ini menandai bahwa konflik politik masih tersisa meski organisasi resmi bubar.

Situasi ini juga menyoroti kondisi lima tahun terakhir, di mana STC menggunakan kekuatan militer untuk menguasai aset strategis, termasuk gedung Agen Berita Yaman (Saba) di Aden, yang sempat diubah menjadi lembaga internal STC.

Seorang pegawai Saba menyatakan harapannya agar gedung kembali dikuasai negara dan rekan-rekan pekerja bisa kembali menjalankan tugasnya. Ia juga menekankan pentingnya normalisasi pembayaran gaji yang sempat terganggu selama penguasaan STC.

Himbauan tersebut telah ditujukan kepada Presiden Yaman, anggota Dewan Kepemimpinan Presidensial, serta Menteri Informasi. Permintaan ini menjadi simbol tuntutan publik agar aset negara dikembalikan ke tangan pemerintah sah.

Pemerintah pusat dipandang memiliki legitimasi untuk mengambil alih aset negara, termasuk gedung, kantor, dan fasilitas produksi, sehingga operasional negara dapat berjalan normal kembali.

Dinamika ini menunjukkan bahwa pengaruh STC selama lima tahun meninggalkan jejak yang luas. Pengembalian aset bukan sekadar simbol politik, tetapi juga langkah strategis untuk stabilitas ekonomi dan administrasi.

Bagi masyarakat lokal, pengambilalihan aset BUMN dan lembaga publik dianggap sebagai upaya menegakkan hukum dan memperkuat otoritas negara atas wilayah yang sempat dikuasai pihak non-negara.

Para analis menilai bahwa langkah STC membubarkan diri membuka peluang bagi pemerintah pusat untuk menegaskan kembali kedaulatan atas seluruh aset strategis di wilayah selatan.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Sebagian anggota STC yang menolak pembubaran masih memiliki pengaruh lokal, dan kemungkinan munculnya perlawanan sporadis tetap menjadi perhatian bagi pemerintah.

Pengambilalihan aset strategis juga dianggap sebagai sinyal bagi investor dan lembaga internasional bahwa situasi politik Yaman mulai mengalami normalisasi. Hal ini penting untuk pemulihan ekonomi di wilayah selatan.

Langkah pemerintah pusat untuk mengembalikan aset BUMN milik Al Saba menjadi prioritas, mengingat lima tahun terakhir penguasaan STC mengganggu operasi media nasional dan penyebaran informasi.

Selain aspek ekonomi dan media, pengembalian aset juga berkaitan dengan legitimasi politik. Pemerintah pusat perlu menunjukkan bahwa kekuasaan atas wilayah dan fasilitas negara berada di tangan yang sah.

Penguatan kontrol atas aset negara juga diharapkan dapat memperbaiki pelayanan publik, mulai dari listrik, air, hingga transportasi, yang sempat terhambat akibat penguasaan STC.

Di tingkat lokal, masyarakat menyambut positif pengembalian gedung dan fasilitas BUMN, karena hal ini meningkatkan rasa aman dan kepercayaan terhadap pemerintah.

Langkah strategis ini juga menandai pergeseran politik di selatan Yaman. Dengan bubarnya STC, ruang gerak pemerintah pusat semakin luas, sekaligus menekan pengaruh kelompok lokal yang menolak integrasi.

Ke depan, fokus pemerintah adalah memastikan pengambilalihan aset berjalan lancar, mencegah konflik, dan menjaga stabilitas administrasi agar proses rekonstruksi dan pelayanan publik dapat berjalan efektif.

Dengan demikian, pembubaran STC bukan sekadar akhir organisasi, tetapi awal dari fase baru penguatan kontrol negara atas aset strategis dan pengembalian legitimasi pemerintah di wilayah selatan Yaman.

Axact

Kata Imam Syafii RA

“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … .

Post A Comment:

0 comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.