Sebuah fragmen sejarah kuno yang jarang dibahas kembali mencuat melalui catatan Eropa awal modern yang merekam kisah ekspedisi lintas samudra dari Afrika Timur menuju Asia Selatan dan Asia Tenggara. Teks tersebut menggambarkan sebuah rencana invasi besar yang oleh sebagian sejarawan disebut sebagai “perang antar benua” pada awal milenium pertama Masehi.

Catatan itu menyebut keterlibatan dua pusat kekuatan maritim Afrika Timur, yakni kawasan Mogadishu dan pesisir Adal yang berpusat di Zeila. Dari wilayah ini, armada besar dikatakan dihimpun dengan tujuan menyeberangi Samudra Hindia menuju pulau-pulau kaya di seberangnya.

Jumlah pasukan yang dikumpulkan tidak kecil untuk ukuran zamannya. Sumber tersebut menyebut sekitar 25 hingga 26 ribu orang ikut serta dalam armada, sebuah angka yang menunjukkan tingkat organisasi politik dan kemampuan logistik yang tinggi.

Target utama ekspedisi ini adalah pulau Taprobane, nama kuno yang sering dikaitkan dengan Sri Lanka, serta Sumatra (di Barus ada cerita rakyat mengenai invasi dari Afrika) yang sejak awal dikenal sebagai simpul perdagangan strategis di jalur India–Cina. Kedua wilayah itu dipandang sebagai pusat kekayaan dan pengaruh di Samudra Hindia.

Rencana invasi bersama ini menunjukkan bahwa hubungan Afrika Timur dengan Asia bukan sekadar perdagangan damai, tetapi juga mencakup ambisi militer dan politik lintas benua. Samudra Hindia pada masa itu bukan penghalang, melainkan penghubung dunia.

Namun, ambisi besar tersebut berakhir di luar rencana. Catatan itu menyebut sebuah badai besar menghantam armada di tengah pelayaran, memaksa kapal-kapal keluar jalur dan kehilangan orientasi.

Alih-alih mencapai Sri Lanka atau Sumatra, armada tersebut justru terdampar jauh di barat daya, di pesisir sebuah pulau besar yang kini dikenal sebagai Madagaskar. Peristiwa ini mengubah arah sejarah ekspedisi tersebut secara drastis.
Para penumpang armada dikisahkan menetap di pulau itu selama berbulan-bulan. Dalam rentang waktu tersebut, mereka membangun penanda dan meninggalkan jejak simbolik yang menunjukkan identitas dan asal-usul mereka.

Sumber Eropa mencatat bahwa mereka mendirikan pilar-pilar batu di beberapa titik pulau dan mengukir tulisan yang disebut sebagai aksara Chaldean. Di antara ukiran itu tercantum nama “Magadoxo”, yang kemudian dianggap sebagai bentuk awal dari nama Madagascar.

Kisah ini menjadi salah satu dasar teori tentang keterlibatan Afrika Timur dalam pembentukan awal peradaban di Madagaskar. Pulau itu memang dikenal sebagai titik temu unsur Afrika dan Asia dalam bahasa, budaya, dan genetika.

Judul teks yang menyertai kutipan tersebut bahkan secara eksplisit menyebut Sakalava dan asal-usul imperium Malagasi awal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa pendaratan armada besar ini meninggalkan dampak politik jangka panjang.

Jika benar terjadi pada abad ke-9 atau ke-10, maka ekspedisi ini berlangsung pada masa keemasan jaringan dagang Samudra Hindia. Mogadishu dan Adal saat itu merupakan pelabuhan aktif yang terhubung dengan Arab, India, dan Asia Tenggara.

Sri Lanka dan Sumatra sendiri dikenal sebagai simpul penting dalam jalur rempah dan perdagangan internasional. Menguasai wilayah tersebut berarti menguasai arus ekonomi lintas benua.

Badai yang menggagalkan ekspedisi ini menjadi faktor alam yang menentukan jalannya sejarah. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa rapuhnya ambisi politik manusia di hadapan kekuatan samudra.

Meski gagal mencapai target utama, pendaratan di Madagaskar justru membuka bab baru dalam sejarah kawasan tersebut. Migrasi tak terencana ini mengubah komposisi penduduk dan struktur kekuasaan lokal.

Dalam konteks lebih luas, kisah ini memperlihatkan bahwa konflik dan ekspansi militer lintas benua bukanlah fenomena modern. Dunia abad pertengahan awal telah mengenal mobilisasi manusia dalam skala besar antar kawasan yang berjauhan.

Narasi ini juga menantang pandangan lama yang memisahkan sejarah Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara secara kaku. Samudra Hindia menjadi ruang interaksi bersama yang dinamis dan sering kali keras.

Para sejarawan modern masih memperdebatkan detail kronologi dan keakuratan sumber-sumber Eropa tersebut. Namun, kesesuaian kisah ini dengan pola migrasi dan temuan linguistik memberi bobot tersendiri.

Bagi Indonesia, khususnya Sumatra, kisah ini menempatkan pulau tersebut dalam konteks geopolitik global sejak awal. Sumatra bukan wilayah pinggiran, melainkan sasaran utama ambisi kekuatan asing sejak berabad-abad lalu.

Bagi Sri Lanka, rencana invasi ini menegaskan posisi strategisnya sebagai titik kunci Samudra Hindia. Pulau itu telah lama berada dalam radar kekuatan maritim lintas kawasan.

Sementara itu, Madagaskar muncul sebagai panggung tak terduga dari sebuah perang antar benua yang gagal. Dari sebuah kesalahan navigasi, lahir bab baru sejarah yang menghubungkan Afrika, Asia, dan samudra di antaranya.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post
Axact

Kata Imam Syafii RA

“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … .

Post A Comment:

0 comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.